ISLAM DI AFRIKA
Penyebaran Islam ke wilayah Afrika kemudian dilanjutkan oleh
khalifah ke tiga yaitu Khalifah Utsman ibn Affan dengan mengirim Abdullah ibn
Sa’ad ibn Abi Sarah yang berhasil mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dan
mengalahkan tentara Bizantium. Ekspansi terus dilakukan sampai ke Barqah dan
Tripoli, dan terus merangsek sampai ke daerah Carthage, yaitu ibu kota Romawi
di Afrika Utara. Perluasan wilayah Afrika sedikit terganggu dengan adanya suhu
politik di Madinah yang kurang mendukung sehingga perluasan wilayah tidak
memungkinkan untuk dilanjutkan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Raja Konstantine
III untuk merebut kembali kekuasaannya atas wilayah Afrika.
A.
Geografis
Afrika
Nama
Afrika berasal dari bahasa latin, yaitu Africa terra yang berarti tanah Afri.
Afrika merupakan benua terluas nomor dua setelah Asia, yaitu 20 % dari seluruh
total daratan bumi dan penduduknya mencapai sepertujuh dari seluruh populasi
dunia.2 Sebutan bagi penduduk Afrika biasa dikenal dengan nama Barbar dan
Negro. Bangsa Negro sangat majemuk, bahkan mendominsi dari jumlah penduduk di
benua Afrika. Aktifitas keagamaannya sangat beragam yang mempunyai peranan
penting dalam kehidupan sehari-hari. Letak astronomis
merupakan letak yang diliha dari garis lintang dan garis bujur. Letak
astronomis Benua Afrika adalah 37° LU-34° LS dan 51° BT-17° BB.Sedangkan
letak geografis Benua Afrika adalah Laut Mediterania di sebelah utara,
Samudra Hindia di sebelah timur, dan Samudra Atlantik di sebelah
selatan dan barat. Letak geografis bila dilihat dari Indonesia adalah Benua
Afrika terletak di sebelah timur wilayah Kepulauan Indonesia dan dipisahkan
oleh Samudra Hindia. Benua Afrika adalah benua terluas ketiga setelah Benua
Asia dan Benua Amerika.
Rumpun
bangsa Negro terbagi menjadi tiga kelompok :
1.
Negro
asli berkulit hitam, bibir tebal, hidung pesek, dan keriting sering dijadikan
budak. Berada di barat pantai Afrika.
2.
Negro
Hamite keturunan emigrant dari kaukasus, disebut juga Nilates. Berada di lembah
sungai Nil dan selatan Khaortoum.
3.
Negro
Bantu, yang mendiami wilayah terbesar Afrika. Sebelah timur dan selatan Afrika
dan kebanyakan di pedalaman pantai sebagai penangkap ikan.
A.
Islam
di Afrika Utara
Afrika Utara adalah bagian dari daerah di benua Afrika di mana
budaya dan penduduknya berbeda dengan daerah-daerah di Afrika lainnya. Afrika
Utara adalah sebuah kehidupan masyarakat Barbar yang bersifat kesukuan,
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan patriarkhi.3 Sebelum Islam
masuk ke daerah Afrika Utara, daerah ini merupakan daerah dibawah kekuasaan
Romawi. Secara geografis, Afrika Utara merupakan wilayah bergurun. Afrika Utara
berada di Timur Laut benua Afrika yang terletak di lembah sungai Nil. Dalam
terminologi Arab, daerah ifriqiyah merupakan bagian dari Afrika Utara yaitu
wilayah Libya, Tunisia, Al-Jazair, dan Maroko. Seluruh wilayah tersebut oleh
orang-orang Arab dikenal dengan sebutan Al-Maghribi.
Penyebaran Islam ke wilayah Afrika kemudian dilanjutkan oleh
khalifah ke tiga yaitu Khalifah Utsman ibn Affan dengan mengirim Abdullah ibn
Sa’ad ibn Abi Sarah yang berhasil mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dan
mengalahkan tentara Bizantium. Ekspansi terus dilakukan sampai ke Barqah dan
Tripoli, dan terus merangsek sampai ke daerah Carthage, yaitu ibu kota Romawi di
Afrika Utara. Perluasan wilayah Afrika sedikit terganggu dengan adanya suhu
politik di Madinah yang kurang mendukung sehingga perluasan wilayah tidak
memungkinkan untuk dilanjutkan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Raja Konstantine
III untuk merebut kembali kekuasaannya atas wilayah Afrika. Penyebaran islam
mengalami kemajuan yang sangat pesat pada masa Muawiyah ibn Abi Sufyan dengan
mengutus seorang yang bernama Uqbah ibn Nafi’ menjadi gubernur di Afrika pada
666M.
B.
Gerakan
Islam dan Pembentukan Negara-Negara
Pada
zaman Ustmaniyah berlangsung
gerakan-gerakan separatis yang ingin memerdekakan diri. Karena merasa
kehkalifahan tidak menyentuh wilayah-wilayah Afrika, mendorong berdirinya
Negara-negara Afrika Utara seperti : Nigeria ( 1754-1817 M) di pimpin oleh Usman
Fodio, Gerakan Grand Sanusi ( 1787-1859M) di Libya, dan Gerakan Al Mahdi di
Sudan ( 1787-1858M).
Gerakan
ini memiliki ciri yakni Sufistik yang berorientasi pada poitik, militant, dan
reformasi. Mereformasi moral dan perpecahan kesukuan kedalam islam sufistik,
cotohnya di pimpin oleh Ahmad Idris, dan di lanjutkan putranya Ali bin Assanusi
dengan tharekat Sanusiyah. Sanusiyah di
Libya berhasil menyatukan suku-suku atas nama Islam dan menyebarkan Islam
Sufistik hingga ke Eropa.
C.
Dakwah
Sufistik di Afrika Utara
Di
Afrika Utara terkenal dengan gerakan Dakwah Sufistiknya. Seperti, Tunisia yakni
gerakan dakwah di Afrika Utara yang sangat kental dengan gerakan sufi, seperti
di Tunisia dengan tharekat Qodariyah, Rahmaniyyah, Isawa dan Tijaniyyah.
Meskipun keberagamanya sangat sufistik. Maroko, gerakan Islam yang awalnya
dalam kebimbangan antara cara keberagaman kaum Borjuis kota, melek huruf,
puritan skripturalis namun satu sisi ada suku-suku tradisional yang praktik
keberagamannya ritualistic-antroplatus. Dan yang terakhir, Libya yakni proses
arabisasi dan Islamisasi dimasa Utsmaniyah namun tidak diiringi pembentukan
rezim yang memusat. Lalu gerakan Sanusiyyah berusaha mempertahakan islam dari
gerakan asing. Sanusiyyah mengebangkan gerakan Sunni islam ortodok, yang mampu
menciptakan perlawanan local dari agresi Italia, akan tetapi Libya luluh lantah
akibta kelantangan melawan sikap Amerika.
D.
Dinasti
– dinasti di Afrika
Berikut
merupakan dinasti-dinasti di Afrika :
a.
Dinasti Idrisiyyah (788-974 M). Oleh Idris bin
Abdullah cucu Hasan bin Ali. Melakukan pemnerontakn di Abbassiyah, lalu lari ke
Maroko . Membangun dinasti Idrisiyyah yang syiah pertama kali.
b.
Dinasti Aghlabiyyah (800-909 M). Dinasti Aghlabiyah adalah salah satu Dinasti Islam di Afrika
Utara yang berkuasa selama kurang lebih l00 tahun (800-909 M), dan berpusat di
Sijilmasa.17 Wilayah kekuasaannya meliputi Ifriqiyah, Algeria dan Sisilia.
Dinasti ini didirikan oleh Ibnu Aghlab.
c.
Dinsti Thuluniyyah (828-905 M).
d.
Dinasti Fathimiyyah (909-1171 M). Berdirinya Dinasti ini bermula menjelang abad ke-X, ketika
kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad mulai melemah dan wilayah kekuasaannya yang
luas tidak terkordinir lagi. Kondisi seperti inilah yang telah membuka peluang
bagi munculnya Dinasti-dinasti kecil di daerah-daerah, terutama di daerah yang
Gubernur dan sultannya memiliki tentara sendiri. Kondisi ini telah menyulut
pemberontakanpemberontakan dari kelompok-kelompok yang selama ini merasa
tertindas serta memberi kesempatan bagi kelompok Syi’ah, Khawarij, dan kaum
Mawali untuk melakukan kegiatan politik.
e.
Dinasti Al Muwahhidun (1121-1269 M). Al-Muwahhidun merupakan dinasti Islam yang pernah berjaya di
Afrika Utara memerintah dari 515-667 H/1121-1269 M. Didirikan oleh Muhammad ibn
Tumart (10801130 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Tumart pada tahun
1114 M. Al-Muhad dari Al-Muwahhidun artinya orang-orang yang mengesakan Allah.
Referensi :
file:///C:/Users/user/Downloads/88-Article%20Text-110-1-10-20191228.pdf
Komentar
Posting Komentar